Pandangan berbeda disampaikan penulis novel Negeri Lima Menara, Ahmad Fuadi. Ia menilai proses menghasilkan sebuah buku tidak berlangsung secara impulsif, melainkan melalui sejumlah tahapan.
“Ada tiga proses sebelum menulis buku. Pertama, kita menyaksikan momen, kemudian merenung. Yang kedua, proses menuliskan memori ke buku. Ketiga, proses reading-nya,” paparnya.
Menurutnya, pengalaman pribadi juga dapat memberikan kedalaman emosi dalam sebuah tulisan sehingga pembaca lebih mudah terhubung dengan cerita.
Sementara itu, Maman Suherman memandang aktivitas menulis buku sebagai cara untuk memberikan ruang kepada pembaca dalam menafsirkan kembali fakta maupun pengalaman.
Ia mengisahkan pengalamannya ketika mengalihwahanakan skripsinya menjadi novel Re:.
“Kalau kita menulis buku, kita jadi mengabadikan kenangan, peradaban, bikin orang menginterpretasikan ulang fakta-fakta yang ada,” ungkapnya.
Maman juga mendorong perpustakaan agar lebih aktif membuat kegiatan yang menjadikan buku sebagai ruang pertukaran gagasan. Ia turut mengusulkan adaptasi konsep human library atau living library, yang menjadikan pengalaman manusia sebagai sumber pembelajaran.
Melalui peringatan Hari Kunjung Perpustakaan, Perpusnas mendorong agar perpustakaan semakin dekat dengan masyarakat. Perpustakaan diharapkan tidak berhenti sebagai tempat mendapatkan bahan bacaan, tetapi berkembang menjadi ruang perjumpaan, pertukaran pengetahuan, dan pembelajaran sepanjang hayat.
