“Indonesia adalah bangsa yang kaya akan keberagaman. Kita memiliki latar belakang yang berbeda-beda, tetapi nilai kemanusiaan tetap menyatukan kita. Ketika ada saudara kita yang membutuhkan bantuan, sudah sepatutnya kita hadir tanpa melihat suku, agama, status sosial, maupun latar belakangnya,” ujar Akuang.

Ia menjelaskan bahwa KISS terus mendorong tumbuhnya semangat kebersamaan melalui berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Baginya, kepedulian sosial tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Akuang juga mengingatkan pentingnya menjaga martabat dan menghormati setiap penerima bantuan. Menurutnya, kegiatan berbagi harus dilaksanakan dengan mengedepankan nilai kemanusiaan agar bantuan yang diberikan tidak membuat penerimanya merasa rendah diri atau tidak nyaman.

“Berbagi bukan tentang siapa yang lebih mampu dan siapa yang sedang membutuhkan. Berbagi adalah tentang bagaimana kita menumbuhkan rasa kemanusiaan. Jangan sampai bantuan yang kita berikan justru membuat orang lain merasa tidak nyaman. Sebaliknya, kita harus menghadirkan suasana persaudaraan, sehingga masyarakat merasa dihargai dan diperhatikan,” katanya.

Lebih lanjut, Akuang berharap sinergi antara KISS, TKN Kompas Nusantara, SKI, dan berbagai organisasi lainnya dapat terus diperkuat melalui program-program sosial yang berkelanjutan.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memulai kepedulian dari lingkungan terdekat. Menurutnya, perubahan positif dapat tercipta apabila setiap individu dan organisasi bersedia mengambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Jangan menunggu menjadi orang besar untuk melakukan kebaikan. Mulailah dari apa yang kita miliki dan dari lingkungan tempat kita berada. Kalau kita semua bergerak bersama, saling menghargai, dan saling membantu, persatuan bukan hanya menjadi kata-kata, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Herman Wu: Jumat Barokah Harus Menjadi Gerakan Kepedulian Berkelanjutan

Ketua Umum Salur Kasih Indonesia (SKI), Herman Wu, menyampaikan bahwa kegiatan Jumat Barokah merupakan momentum penting untuk memperkuat budaya gotong royong dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membantu sesama.

Ia menilai bahwa berbagai persoalan sosial membutuhkan perhatian dan keterlibatan bersama. Oleh karena itu, organisasi kemasyarakatan dan komunitas sosial diharapkan dapat berperan aktif dalam membangun solidaritas serta menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya.

“Menurut kami, kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui bantuan dalam jumlah besar. Yang terpenting adalah ketulusan, kemauan untuk berbagi, dan konsistensi dalam membantu sesama. Ketika setiap orang bersedia memberikan kontribusi sesuai kemampuannya, kita dapat membangun lingkungan yang lebih peduli dan saling menguatkan,” ujar Herman Wu.

Ia menambahkan bahwa kegiatan sosial seharusnya tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan acara, tetapi juga memperhatikan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Untuk itu, kerja sama antarlembaga perlu dibangun melalui komunikasi yang baik, koordinasi yang berkesinambungan, serta program yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Herman Wu juga mengajak masyarakat agar tidak bersikap acuh terhadap kesulitan yang dialami orang lain. Menurutnya, kepedulian merupakan tanggung jawab moral yang perlu dipelihara dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sehingga lupa melihat keadaan orang di sekitar kita. Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan semua persoalan, tetapi kita selalu dapat memulai dengan tindakan sederhana. Membantu, mendengarkan, memberikan perhatian, dan bergotong royong adalah bagian dari nilai kemanusiaan yang harus kita jaga,” tegasnya.