Perjalanan menuju jabatan kepala daerah itu juga tidak berlangsung secara instan. Cory pernah memasuki kontestasi politik lokal sebelum akhirnya terpilih sebagai Wakil Bupati Karo untuk periode 2016–2021. Pada Pilkada 2020, ia maju bersama Theopilus Ginting dan terpilih menjadi Bupati Karo untuk periode 2021–2025.

Kepemimpinannya mencatatkan sejarah karena Cory menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan Bupati Karo. Capaian tersebut kemudian menjadi salah satu pokok penting yang diangkat dalam buku biografinya.

Badikenita Br Sitepu: Keberhasilan Cory Bukan Sekedar Pencapaian Pribadi

Pencapaian Cory sebagai perempuan pertama yang memimpin Kabupaten Karo mendapat perhatian dari berbagai tokoh yang hadir dalam peluncuran buku tersebut.

Ketua Komite II DPD RI, Dr Badikenita Br Sitepu, S.E., S.H., M.Si., memandang perjalanan Cory sebagai sesuatu yang melampaui pencapaian pribadi. Dalam sambutannya, Badikenita menyoroti keberhasilan Cory membawa namanya sendiri ke dalam sejarah kepemimpinan daerah sekaligus membuka jalan bagi perempuan Karo untuk mengambil peran lebih besar dalam pemerintahan.

Badikenita menilai bahwa menjadi Bupati Karo memperlihatkan kesediaan Cory untuk memikul tanggung jawab lebih besar.

Pandangan tersebut memberikan dimensi yang lebih luas terhadap makna keberhasilan seorang perempuan dalam politik. Sebab, ketika seorang perempuan berhasil menduduki posisi strategis dalam pemerintahan, pencapaian itu tidak hanya berkaitan dengan perjalanan karier individu, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi perempuan lain yang ingin terlibat dalam kepemimpinan publik.

Dalam masyarakat yang memiliki tradisi patrilineal dan masih menghadapi tantangan budaya patriarki, kehadiran perempuan sebagai kepala daerah menjadi bagian dari perubahan cara pandang mengenai siapa yang dapat memimpin dan bagaimana kepemimpinan seharusnya dijalankan.

Namun, terbukanya kesempatan tersebut perlu diikuti oleh penguatan kapasitas, pendidikan, pengalaman organisasi, dan kesempatan berpartisipasi yang setara agar lebih banyak perempuan mampu mengambil peran dalam pembangunan.

Perspektif Badikenita itu sejalan dengan pandangan Pembina Cendekiawan Karo Indonesia, Dr Ir Budi Derita Sinulingga, M.Si., yang menyoroti aspek lain dari perjalanan Cory, yakni keberaniannya meninggalkan zona nyaman.

Jika Badikenita menempatkan pencapaian Cory dalam konteks sejarah kepemimpinan perempuan, Budi melihat proses keberanian mengambil langkah sebagai bagian penting yang mengantarkan Cory menuju posisi tersebut.

Budi Derita Sinulingga: Keberanian Meninggalkan Zona Nyaman Menjadi Bagian Penting Perjalanan Cory

Dalam sambutannya, Budi Derita Sinulingga menegaskan bahwa tidak semua orang berani meninggalkan zona nyaman untuk melihat peluang dan maju menjadi pemimpin.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa perubahan arah kehidupan membutuhkan kesiapan menghadapi risiko dan tantangan yang tidak selalu dapat diprediksi.

Berpindah dari dunia usaha dan pelayanan kesehatan menuju politik serta pemerintahan bukan sekedar perubahan profesi. Dunia pemerintahan membawa tanggung jawab yang berbeda karena seorang kepala daerah harus berhadapan dengan kebutuhan masyarakat yang beragam, keterbatasan anggaran, koordinasi antarinstansi, dinamika sosial, serta berbagai persoalan yang memerlukan penyelesaian melalui kebijakan publik.

Dalam posisi tersebut, keberanian harus berjalan bersama pertimbangan yang matang. Seorang pemimpin dituntut tidak hanya mampu mengambil keputusan, tetapi juga mempertanggung jawabkan keputusan itu kepada masyarakat.