MEDAN | REPUBLIK.CO.ID — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 pada Selasa (22/10/2026) menjadi momentum istimewa untuk mengenang perjuangan para santri dalam menuntut ilmu agama, menanamkan akhlak mulia, serta mengamalkan nilai-nilai kesederhanaan, kesabaran, dan keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam momentum penuh makna tersebut, Wakil Pimpinan Redaksi Media Online Republik.co.id, Deli Erlina, menyampaikan pesan inspiratif dan penuh ketulusan kepada seluruh santri di Indonesia maupun sedang menuntut ilmu di berbagai tempat. Pesan itu tidak hanya berisi motivasi untuk terus belajar dan memperkuat keimanan, tetapi juga mengandung ungkapan kasih sayang seorang ibu kepada anak kandungnya tercinta sedang menempuh perjalanan menuntut ilmu.

Bagi Deli Erlina, Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan. Lebih dari itu, momentum ini merupakan pengingat bahwa pendidikan agama, pembentukan karakter, dan penanaman akhlak merupakan fondasi penting dalam membangun generasi berilmu, beriman, berintegritas, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.

Menurutnya, perjuangan para santri dalam menuntut ilmu merupakan perjalanan mulia pembutuh keteguhan hati, kedisiplinan, kesabaran, dan keikhlasan. Tidak semua proses belajar berjalan mudah, sebab ada kalanya rasa lelah, kerinduan kepada keluarga, keterbatasan, dan berbagai tantangan menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Namun, justru melalui berbagai ujian itulah karakter seorang santri ditempa agar tumbuh menjadi pribadi kuat, rendah hati, dan mampu menghadapi kehidupan dengan berpegang teguh pada nilai-nilai agama.

Deli Erlina: Bangga Menjadi Bagian dari Generasi Penjunjung Tinggi Ilmu dan Akhlak

Dalam pesannya, Deli Erlina mengungkapkan rasa bangga kepada generasi muda bersungguh-sungguh menuntut ilmu, terutama mereka senantiasa berusaha menjaga akhlak dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman hidup.

“Bangga menjadi bagian dari generasi penjunjung tinggi ilmu dan akhlak, serta belajar tentang kesederhanaan, kesabaran, dan keikhlasan. Semoga nilai-nilai tersebut terus tumbuh dalam diri generasi muda dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Deli Erlina.

Ia menegaskan, menjadi santri bukan semata-mata tentang belajar di pesantren atau lembaga pendidikan agama. Menjadi santri juga merupakan proses panjang dalam membentuk kepribadian, memperkuat keyakinan, melatih kedisiplinan, dan membiasakan diri untuk melakukan kebaikan.

Dalam pandangannya, kesederhanaan bukanlah tanda kekurangan, melainkan pelajaran untuk mensyukuri sesuatu milik kita pribadi dan tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran kebahagiaan.

Demikian pula kesabaran, bukan berarti kelemahan atau ketidak mampuan menghadapi keadaan. Sebaliknya, kesabaran merupakan kekuatan batin untuk tetap bertahan, berusaha, dan berprasangka baik kepada Allah SWT ketika menghadapi berbagai kesulitan.

Sementara itu, keikhlasan menjadi landasan penting agar setiap usaha dilakukan tidak semata-mata berorientasi pada pujian manusia, melainkan dilandasi niat baik dan harapan memperoleh ridho Allah SWT.

“Kesederhanaan mengajarkan kita untuk bersyukur, kesabaran menguatkan kita ketika menghadapi ujian, dan keikhlasan menjadikan setiap perjuangan memiliki makna. Ketiganya merupakan nilai kehidupan harus terus dijaga, bukan hanya oleh para santri, tetapi juga oleh setiap orang ingin menjadi pribadi lebih baik,” tuturnya.

Menuntut Ilmu Adalah Perjalanan Mulia Penuh Ketulusan

Lebih lanjut, Deli Erlina menyampaikan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak semestinya hanya diukur dari kemegahan tempat belajar, banyaknya fasilitas, ataupun pencapaian akademis semata.