Dodi menegaskan, semangat Pancasila juga tercermin dalam bagaimana masyarakat menyelesaikan persoalan.
Musyawarah, penghormatan terhadap hukum, penghargaan terhadap martabat manusia dan kepedulian terhadap keadilan sosial, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi konsep yang tertulis dalam buku.
“Kalau kita berbicara tentang Pancasila, maka kita juga harus berbicara tentang keadilan. Jangan hanya meminta masyarakat menjaga persatuan, tetapi pada saat yang sama masyarakat merasa tidak mendapatkan keadilan. Nilai Pancasila harus dirasakan dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Ia berharap peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat kebangsaan, terutama di tengah generasi muda yang akan menentukan wajah Indonesia pada masa mendatang.
Generasi muda, katanya, tidak cukup hanya mengenal Pancasila secara teoritis. Mereka perlu memahami mengapa persatuan, kemanusiaan, musyawarah dan keadilan tetap relevan dalam kehidupan modern.
“Pancasila harus mampu menjawab tantangan zaman. Generasi muda harus memahami bahwa mencintai Indonesia bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan menjaga persatuan, menghargai perbedaan, melawan informasi palsu, menghormati hukum dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Jangan Ramai Saat Upacara Saja
Pada akhirnya, Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang menoleh ke belakang dan mengenang perjalanan sejarah bangsa. Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa mempertahankan persatuan Indonesia merupakan tanggung jawab setiap generasi.
Dodi mengingatkan agar nilai Pancasila tidak berhenti ketika upacara selesai.
“Jangan sampai Pancasila hanya ramai ketika upacara. Setelah upacara selesai, kita kembali saling mencaci, saling mencurigai dan saling menjatuhkan. Kalau itu yang terjadi, berarti kita belum benar-benar memahami makna Pancasila,” tegas Dodi.
Ia menambahkan, kekuatan Pancasila pada akhirnya akan terlihat bukan dari seberapa sering lima sila tersebut dibacakan, melainkan dari seberapa jauh nilai-nilainya diwujudkan dalam kehidupan.
“Pancasila bukan sekadar untuk dihafalkan. Pancasila harus hidup dalam tindakan. Dari keluarga, lingkungan masyarakat, lembaga negara, dunia pendidikan, hingga ruang pers. Karena masa depan persatuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh sejarah, tetapi juga oleh apa yang kita lakukan hari ini,” pungkasnya.











