Dirwana juga mengingatkan agar kegiatan sosial tidak berhenti pada dokumentasi.

“Jangan sampai kegiatan sosial hanya ramai ketika kamera menyala. Justru yang paling penting adalah setelah kegiatan selesai, semangat berbagi itu tetap ada. Masyarakat membutuhkan kepedulian yang konsisten, bukan hanya kata-kata,” tegasnya.

Herman Wu: Jangan Tunggu Diminta untuk Berbagi

Ketua Umum DPP Salur Kasih Indonesi (SKI), Herman Wu, menyampaikan bahwa kegiatan Jumat Barokah menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial secara nyata.

Herman mengatakan, masyarakat penerima makanan bukan semata-mata harus dilihat sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sosial yang perlu dihargai.

“Kita jangan melihat masyarakat hanya dari sisi membutuhkan atau tidak membutuhkan. Mereka adalah saudara kita, bagian dari masyarakat yang setiap hari bekerja dan berjuang,” katanya.

Ia menilai berbagi tidak harus menunggu seseorang memiliki banyak hal.

“Berbagi itu tidak harus menunggu kaya. Jangan menunggu punya banyak baru mau berbagi. Kalau hari ini kita punya makanan lebih, kita bisa berbagi makanan. Kalau punya waktu, kita bisa memberikan waktu. Kalau punya kemampuan membantu, maka bantulah,” ujar Herman.

Herman juga menekankan pentingnya turun langsung ke tengah masyarakat.

“Kami tidak ingin hanya duduk di ruangan membicarakan masyarakat. Kita harus turun, bertemu dan melihat langsung kondisi mereka,” ungkapnya.

Ia berharap kolaborasi yang dilakukan bersama TKN Kompas Nusantara dan YLMI dapat terus berlanjut.

Dr. Hartono Chandra: Kepedulian Harus Menjadi Gerakan

Ketua Umum YLMI, Dr. Hartono Chandra, mengatakan keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari upaya memperluas kepedulian kepada masyarakat, termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian.

Hartono menilai persoalan sosial tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak.

“Kepedulian sosial bukan pekerjaan satu orang atau satu organisasi. Ini adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Menurutnya, kesibukan kehidupan perkotaan terkadang membuat masyarakat terlalu fokus terhadap aktivitas masing-masing.

Padahal, kata Hartono, banyak orang yang setiap hari bekerja di jalan memiliki perjuangan dan tanggung jawab keluarga yang harus dipenuhi.

“Ada yang berangkat pagi dan pulang malam. Ada yang pendapatannya tidak selalu sama setiap hari. Ada keluarga yang harus mereka pikirkan. Di situlah pentingnya rasa kepedulian,” katanya.

Ia juga melihat kegiatan berbagi makanan sebagai sarana memperkuat hubungan sosial.

“Makanan yang kita bagikan mungkin sederhana, tetapi interaksi antara orang yang memberi dan menerima itulah yang memiliki nilai. Kita saling menyapa, saling menghargai dan saling mendoakan,” ungkap Hartono.

Hartono berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan.

“Masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian, masih banyak lansia yang perlu didampingi, dan masih banyak ruang untuk kita melakukan kebaikan,” tegasnya.

720 Paket dan Pesan di Baliknya

Jumat Barokah di depan RSU Dr. Pirngadi Medan akhirnya bukan sekadar tentang 720 paket makanan.

Di balik 300 kotak donat, 120 kotak nasi dan ayam penyet, serta 300 cup bubur kacang hijau, terdapat pesan tentang pentingnya kepedulian yang hadir secara langsung di tengah masyarakat.

Para pengemudi ojol, sopir angkot, tukang becak, pekerja harian, penumpang dan warga yang melintas menjadi bagian dari kegiatan tersebut.

Di tengah padatnya aktivitas Kota Medan, aksi sederhana itu memperlihatkan bahwa berbagi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana.

Sebab, bagi masyarakat yang sedang bekerja dan beraktivitas di jalan, sebuah makanan yang datang pada waktu yang tepat bukan hanya soal isi kotaknya.