MEDAN | REPUBLIK.CO.ID — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 hendaknya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum tersebut perlu menjadi ruang refleksi untuk menguji kembali sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam kehidupan masyarakat, pemerintahan, demokrasi, hingga cara setiap anak bangsa memperlakukan sesamanya.
Bagi Indonesia yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, bahasa dan latar belakang sosial, Pancasila bukan sekadar lima sila yang dihafalkan sejak bangku sekolah.
Pancasila merupakan fondasi yang mempertemukan berbagai perbedaan dalam satu kehidupan kebangsaan.
Karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila semestinya tidak hanya ditandai dengan upacara, pengibaran bendera dan pembacaan teks Pancasila. Lebih jauh, momentum ini harus menjadi kesempatan untuk melihat apakah nilai-nilai tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Direktur Pelaksan Media Online Republik.co.id, Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos. mengatakan, Pancasila akan memiliki makna apabila nilai yang terkandung di dalamnya diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata.
“Pancasila jangan hanya kita ucapkan ketika upacara. Pancasila harus terlihat dalam perilaku kita sehari-hari. Bagaimana kita menghormati orang lain, bagaimana kita menyikapi perbedaan, bagaimana kita memperjuangkan keadilan dan bagaimana kita menjaga persatuan,” ujar Dodi.
Menurutnya, perkembangan zaman menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan masa lalu. Masyarakat kini hidup dalam ruang informasi yang terbuka, di mana setiap orang dapat menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan tersebut juga menuntut tanggung jawab.
Informasi yang tidak diverifikasi, provokasi, ujaran kebencian dan perdebatan tanpa batas berpotensi memperlebar perbedaan apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk menyaring informasi secara bijak.
“Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana untuk mempererat komunikasi justru menjadi alat untuk memecah persaudaraan. Kita harus belajar membedakan kritik dengan kebencian, perbedaan pendapat dengan permusuhan, serta informasi dengan provokasi,” katanya.
Berbeda Pilihan Bukan Alasan Memutus Persaudaraan
Dodi menilai semangat persatuan tidak berarti seluruh masyarakat harus memiliki pandangan yang sama dalam segala hal.
Dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tersebut tidak lagi ditempatkan dalam kerangka persaudaraan sebagai sesama warga negara.
“Boleh berbeda pilihan, boleh berbeda pendapat, boleh mengkritik kebijakan. Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan rasa sebagai satu bangsa. Demokrasi membutuhkan keberanian untuk berbeda sekaligus kedewasaan untuk menghormati perbedaan,” ujarnya.
Sebagai pimpinan media, Dodi juga menyoroti pentingnya pers dalam menjaga ruang publik.
Menurutnya, media tidak boleh kehilangan fungsi sebagai penyampai informasi sekaligus kontrol sosial. Pers harus berani menyampaikan fakta dan kritik ketika terdapat persoalan yang menyangkut kepentingan publik.
Namun, keberanian tersebut harus berjalan bersama verifikasi, keberimbangan dan tanggung jawab jurnalistik.
“Media harus kritis, tetapi juga harus bertanggung jawab. Ketika ada persoalan, yang kita kedepankan adalah fakta. Kalau ada pihak yang diberitakan merasa keberatan, ruang klarifikasi harus dibuka. Dengan begitu, masyarakat mendapatkan informasi yang lebih utuh,” kata Dodi.
Pancasila Harus Terasa dalam Kehidupan Nyata











