Pengalaman Cory selama menjabat sebagai Bupati Karo menjadi bagian penting dari konteks tersebut. Ia harus menghadapi berbagai persoalan daerah, termasuk penanganan pandemi COVID 19, penyediaan lahan bagi pengungsi Gunung Sinabung di kawasan Siosar, dan penyelesaian konflik lahan di Mbal Mbal Nodi.

Dalam sambutannya pada peluncuran buku, Cory menyebut ketiga persoalan tersebut sebagai bagian dari capaian yang ia kenang selama memimpin Kabupaten Karo. Ia juga mengapresiasi kerja sama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang menurutnya berperan dalam pelaksanaan berbagai upaya tersebut.

Pengalaman menghadapi persoalan-persoalan itu menunjukkan bahwa perjalanan seorang kepala daerah tidak hanya ditentukan oleh keberhasilannya memperoleh jabatan, tetapi juga oleh kesediaannya menghadapi situasi yang membutuhkan koordinasi, ketegasan, dan tanggung jawab.

Dari sudut pandang tersebut, keberanian meninggalkan zona nyaman yang disampaikan Budi menjadi penghubung antara perjalanan pribadi Cory dan tantangan yang kemudian dihadapinya dalam pemerintahan.

Akan tetapi, keberanian seorang pemimpin juga harus dilihat bersama hasil kebijakan, proses pelaksanaannya, dan dampaknya bagi masyarakat. Karena itu, pengalaman Cory layak dipelajari bukan hanya sebagai cerita keberhasilan personal, tetapi juga sebagai bahan refleksi mengenai praktik kepemimpinan di tingkat daerah.

Prof Maria Br Kaban: Harapan agar Perempuan Karo Mengikuti Jejak Cory

Perjalanan Cory yang telah membuka ruang baru bagi kepemimpinan perempuan kemudian memperoleh makna lanjutan melalui pandangan Ketua Wanita Karo Indonesia sekaligus Guru Besar Universitas Sumatera Utara, Prof Dr Maria Br Kaban, S.H., M.Hum.

Dalam peluncuran buku tersebut, Maria berharap perempuan Karo lainnya dapat mengikuti jejak Cory Sebayang.

Harapan itu memperluas pembahasan dari keberhasilan seorang tokoh menuju persoalan regenerasi kepemimpinan perempuan. Apabila pencapaian Cory menjadi pintu pembuka dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Karo, tantangan berikutnya adalah bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi sekaligus dorongan bagi perempuan lain untuk mengembangkan kemampuan dan berkontribusi dalam berbagai bidang.

Keterlibatan perempuan dalam pemerintahan tidak harus selalu dimulai dengan mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Kesempatan tersebut dapat tumbuh melalui pendidikan, aktivitas sosial, organisasi kemasyarakatan, profesi, dunia usaha, hingga keterlibatan dalam proses perumusan kebijakan.

Pengalaman di berbagai bidang dapat menjadi modal untuk memahami kebutuhan masyarakat dan membangun kemampuan kepemimpinan.

Dalam konteks Kabupaten Karo, harapan Maria memiliki relevansi tersendiri karena pembangunan daerah membutuhkan partisipasi masyarakat yang luas, termasuk perempuan yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan untuk memberikan kontribusi.

Kehadiran perempuan dalam ruang pengambilan keputusan juga dapat memperkaya perspektif dalam merumuskan kebijakan, sepanjang didukung oleh kapasitas, integritas, dan orientasi terhadap kepentingan publik.

Karena itu, harapan agar perempuan Karo mengikuti jejak Cory tidak semata-mata dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mengejar jabatan yang sama. Lebih jauh, harapan tersebut merupakan dorongan agar perempuan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan potensi dan mengambil bagian dalam pembangunan daerah.

Pandangan Maria itu sekaligus memperkuat pesan yang disampaikan Badikenita mengenai arti pencapaian Cory yang melampaui kepentingan pribadi.