Dari ekonomi konsumsi menuju ekonomi produksi. Dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi bernilai tambah. Dari pertumbuhan yang menciptakan angka menuju pertumbuhan yang menciptakan pekerjaan. Dari belanja pemerintah menuju investasi produktif.
Dan yang paling penting, dari pertumbuhan yang dinikmati sebagian kelompok menuju pertumbuhan yang memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Indonesia saat ini tidak sedang menghadapi persoalan yang sederhana. Dunia berubah cepat. Fragmentasi perdagangan meningkat. Geopolitik semakin tidak pasti. Transisi energi berlangsung. Teknologi dan kecerdasan artifisial mengubah pasar tenaga kerja. Sementara itu, kebutuhan pembiayaan pembangunan terus meningkat.
Dalam situasi seperti ini, Menteri Keuangan tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengelola angka. Ia membutuhkan visi ekonomi, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun konsensus, serta keberpihakan pada kepentingan jangka panjang bangsa.
Publik tentu berharap pengalaman panjang Suahasil di bidang fiskal dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih berani. Sebab, tantangan Indonesia bukan lagi sekadar bagaimana menjaga ekonomi tetap tumbuh 5 persen.
Tantangannya adalah bagaimana membuat pertumbuhan 5 persen terasa nyata di dapur rumah tangga, di sawah petani, di pabrik, di pasar, di UMKM, dan di rekening pekerja.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang Menteri Keuangan bukan hanya apakah APBN defisit atau surplus.
Ukuran keberhasilannya adalah apakah APBN mampu membuat kehidupan rakyat menjadi lebih baik. Karena di pundak Menteri Keuangan bukan hanya bertumpu pada angka-angka APBN, tetapi juga pada harapan ekonomi jutaan rakyat Indonesia.
Sumber: Kompas.com











